Lady Antebellum - Compass




What a unique one!

Titik Asa

Aku telah menjumpai suatu titik cerah penuh asa
Titik yang sinarnya jauh lebih terang daripada sebelumnya
Titik yang hangatnya jauh lebih terasa hingga ke relung hati sekalipun
Titik yang damainya jauh lebih membuatku merasa nyaman
Titik yang bentuknya jauh lebih kokoh dan memiliki konstruksi yang pejal

Bahkan deret aritmatika tak mampu memecahkan notasi kasih yang termaktub di dalamnya
Uji statistika apapun selalu memberikan hasil yang berbeda nyata dan signifikan dengan nilai kepercayaan yang tinggi, bahkan ini sangat sulit dipercaya.
Teori perhitungan laju pertumbuhan makhluk hidup pun tak mampu memecahkan ketidakteraturan pola pertumbuhan rasa yang timbul karenanya.

Bang!
Titik asa itu terlalu berkembang pesat
Hingga akhirnya aku sadar ia telah berada pada fase perkembangan akhir dan bersiap untuk pecah
Bodohnya aku terlambat untuk menyadarinya

Titik itu ternyata hitam
Titik yang warnanya jauh lebih kelam daripada sebelumnya
Titik yang panasnya jauh lebih terasa hingga membakar logika dan mendahulukan rasa
Titik yang penuh kamuflase hingga aku terlena dengan rasa nyaman
Titik yang bentuknya jauh lebih tidak teratur

Sampai suatu masa, aku terpaksa melenyapkan titik itu
Rasanya lebih sakit, usaha yang harus ku kerahkan lebih besar
Aku masih dalam perjalanan untuk betul-betul meninggalkan titik itu
Dan tidak menoleh ke belakang untuk kembali pada titik itu
Semoga saja tidak, karena titik itu pun pasti tidak mau terusik lagi

Pramusaji Itu! (2)


Aku masih terus berpikir, apa yang sebenarnya kamu ukir? Dan apa yang sebenarnya kamu coba tepis?
Bahkan, aku masih terus mencari arti dari sebuah intuisi diri dalam otak kiri ini.
Kamu tahu? Perlu waktu dua jam setelah itu. 120 menit setelah terakhir kali aku membelai hangat rambutmu. 7200 menit setelah kau genggam jemariku dengan penuh keyakinan. 432000 detik setelah kau memberikan intonasi bicaramu yang sangat khas.
Dan apa hasilnya? Begitu saja, tiba-tiba muncul “aku sayang kamu” dari lapisan tipis bibirku, terucap oleh papila kecil dari permukaan lidahku.
Dan apa yang menjadi sangat bodoh? Tidak sampai 10 detik kemudian, ada balasan darimu, “aku juga sayang kamu”.  Langsung saja, seperti ada voltase besar pada neuron otakku, seperti ada yang mendesak keluar dari dalam gastro intestinalku, dan seperti ada tekanan batin yang mendalam dari dalam nuraniku. Bagaimana bisa aku merasakan yang terakhir ketika aku sama sekali tidak tahu dimana letaknya? Aku tidak peduli, yang jelas itu sangat bodoh.
Kenapa bodoh? Karena aku dan kamu sama-sama tidak bisa mengendalikan diri. Terlalu munafik, terlalu optimis akan derita fana ini.
Sampai akhirnya, Tuhan berkehendak lain. Ah, sudah! Jangan bawa-bawa Tuhan. Toh, Ia sudah menorehkan garis hidup kita sejak sebelum kita lahir.
Tetap saja, yang salah itu kita! Dan, penyakit itu! Kenapa harus hadir di antara aku dan kamu? Kenapa tidak mencari pasangan lain yang mungkin sudah tidak ingin mempertahankan hubungannya karena urusan ayunan “mood swinger” atau apapun yang bisa menyebabkan jalinan itu retak.
Kenapa juga harus aku yang membenarkan simpul senyuman yang tersungging dari bibirmu agar tampak lebih sempurna?
Tepat sebelum alat itu berbunyi “beeeepppppppp”. Satu nada, satu hentakan, satu irama, tanpa ada jeda. Seakan tidak ada suara lain selain suara itu.
╔════════╗
╠╦╩╦╩╦╩╦╩╣
╚════════╝
“Mas, ini kwetiau ayamnya. Acar wortelnya saya kasih spesial”, dan tiba-tiba saja kata-kata itu membuat aku tersadar dari lamunanku. “Ngelamun aja, Mas?” lanjutnya.
“Iya nih, nunggu temen. Bingung mau ngapain”, jawabku.
“Kalo gitu langsung dimakan aja kwetiaunya. Saya permisi dulu”.
Astaga, baru saja aku teringat akan bayanganmu dan tiba-tiba saja kamu datang! Walaupun dengan jati diri yang berbeda, tapi itu sudah cukup membuatku terhibur.
Melihatnya menuangi setiap gelas-gelas kecil dengan teh tawar dari teko tua itu masih bisa menjadi hiburan yang aku geluti. Masih ada sosok kamu di dirinya.
Sosok ketika ia menyajikan gelas-gelas itu.
Sosok ketika ia mencatat setiap pesanan yang terlontar dari mulutku.
Sosok ketika ia berupaya ramah terhadapku.
Tapi tetap saja, masih ada yang kurang. Ia tidak pernah berkata, “Hey, kamu!”
Dan ketika ia berkata demikian, aku yakin, aku tidak akan bisa membedakan mana ilusi semata dan realita.

Nocturnal

Untuk membuat aku terjaga dalam keheningan malam, aku tidak pernah merasa membutuhkan sesuap kudapan manis yang syarat akan karbohidrat murni.
Aku juga tidak pernah membutuhkan cemilan kemasan yang nikmat dengan xenobiotiknya.
Apalagi kopi, bahkan minum teh pun aku jarang!
Aku bukan seseorang yang kecanduan kafein sebagai penyegar syaraf dan penekan rasa kantuk.
Apalagi? Asam klorogenat dan fenolnya yang bisa menangkal radikal? Ahh, pikiran ku jauh lebih radikal dibandingkan DPPH sekalipun!

Bukan bermaksud menjadi naif dengan kepedulian tinggi pada penyakit degeneratif.
Mungkin aku kurang sensitif terhadap reaksi tubuh karena aditif.
Bahkan aku jauh lebih sensitif terhadap kesan imajinatif.

Aku tidak butuh apapun untuk membuat ku terjaga.
Kebetulan, aku hanya bisa memikirkan. Ya, mungkin benar rencana Tuhan.

527.040

Tak terasa, sudah 527.040 menit yang lalu. Saat dimana aku terakhir bertemu denganmu.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 tepat. Aku masuk ke restoran tersebut, sesuai dengan janji kita. Ku mulai dengan memesan minuman, kemudian aku tunggu dirimu. Bukan bermaksud pesimis, tapi aku punya firasat bahwa 99% kamu tidak akan hadir. Kemana yang 1% lagi? Hanya kebetulan yang mampu menjawabnya.

Jarum detik sudah mulai bekerja menghitung waktu. Diikuti oleh jarum menit yang tanpa terasa sudah bergeser sekitar 180 derajat. Aku hanya bisa menghela napas. Dan mulai berpikir untuk meninggalkan tempat ini. Lalu, kalau kamu tidak datang, apa yang bisa aku lakukan? Toh, jawabannya tidak ada.

Sudah hampir 1 jam aku berada di tempat yang sebetulnya tidak pernah berada pada kawasan nyaman untukku. Yah, dengan bodohnya, muncul sedikit keberanianku untuk mengirimkan pertanyaan padamu, "Jadi, mau datang?" Agak lama jarak antara waktu aku mengirim pesan singkat itu dengan waktu balasan darimu masuk ke alat komunikasiku. "Sabar, sebentar lagi sampai", itu yang kamu kirim. Dan 10 menit kemudian kamu datang.

Aku tidak pernah menginginkan peristiwa itu berakhir dengan cepat. Bahkan, kalau ada alat penghenti waktu, pasti sudah aku gunakan saat itu. Tapi, untuk apa berlama-lama? Aku kan cuma ingin memberikan buku ini kepadamu, lalu mengucapkan selamat tinggal, tidak tahu untuk selamanya atau sementara.
Sayangnya, aku tidak punya alat penghenti waktu dan aku sudah memiliki agenda lain. Tidak sampai 3600 detik kita bertemu, aku harus pergi.

Dan sekarang, aku hanya bisa bergumam dalam diam, "Hey, buku! Apa kabar pemilikmu? Semoga baik-baik saja dan hidupnya makin progresif. Maaf, aku punya kelebihan stok air mata saat ini".

Just A Kiss

One of the Lady A's great song! What a good video clip!


Pramusaji Itu!

Ini masih pukul 18.30 WIB, tapi aku sudah terduduk diam di meja Nomor 19, menanti santapan makan malamku. Sudah ada di tanganku daftar menu restoran ini. Iya, entah kenapa aku jadi sering singgah di restoran ini, di bilangan Taman Kencana.
Aku tidak perlu menelaah daftar menu untuk menentukan pilihan makanan, karena aku sudah tahu apa yang akan aku pesan, seperti biasanya. Tidak ada yang terlalu spesial akan restoran ini. Harganya masih tergolong menengah, bahkan agak mahal untuk kalangan mahasiswa. Rasa makanannya tidak terlalu unik, hampir sama dengan restoran lain. Suasananya, mungkin sedikit berbeda. Konsep taman yang disajikan mungkin akan membuat pengunjung lain lebih tertarik dengan tempat ini. Tapi, tidak bagiku.
Lalu, untuk apa lagi aku datang ke tempat ini? Bahkan, aku bisa datang ke restoran ini tiga kali dalam seminggu. Jarak kampus dengan tempat ini pun jauh, satu jam perjalanan.
Ini mungkin karena kesan kunjungan pertamaku ke tempat ini. Bersama dengan seorang teman, aku mulai dengan memesan kwetiau ayam. Dilanjutkan dengan melihat-lihat bagian dalam restoran, yang isinya mayoritas tumbuhan hijau. Bukan, aku bukan anggota club pecinta alam yang keranjingan dengan tumbuhan hijau. Jadi, itu biasa saja, untukku.
Lalu, apa yang spesial dari restoran ini? Aku belum menemukan sisi yang spesial, sampai saat itu. Aku juga tidak pernah mendatangi restoran ini sewaktu aku bepergian bersamamu. Jadi, aku tidak perlu merasakan kejutan kecil di ingatanku.
Hal yang membuatnya spesial adalah ketika seorang pramusaji datang mengantarkan makanan yang telah aku pesan. Rupanya, Tuhan masih terlalu baik denganku. Kamu tahu? Pramusaji itu mirip denganmu. Paras mukanya, cara jalannya, cara ia tersenyum, dan cara ia menyapa. Tapi, aku tidak bermaksud menggunjing dan menyetarakanmu dengan pramusaji itu. Setidaknya, aku masih bisa melihat sosok dirimu pada pramusaji itu. Sosok yang sudah tidak bisa aku lihat lagi dalam kenyataan.
Di kunjungan berikutnya, aku kembali melihatnya. Tapi sayang, ia terlalu sibuk melayani tamu lain. Tak mengapa, asalkan aku masih bisa melihatnya. Aku juga pernah mendapati ia sedang menuangi gelas-gelas kosong dengan teh tawar dari teko tua. Tidak perlu aku menyapanya, tapi aku sudah bisa tersenyum melihatnya.
Dan kali ini, aku beruntung. Ia melayaniku, menyapaku dengan hangat, bahkan ia mengajakku bicara. Barangkali, kalau aku ada di posisinya, aku juga akan melontarkan pertanyaan yang sama. Tanpa ada isyarat sebelumnya, tiba-tiba saja ia bertanya, "Hey, Mas! Sering banget ke sini ya?! Jadi pelanggan tetap?" dengan sedikit tersenyum. Kamu tahu? Aku hanya bisa tersenyum mendengar hal itu dan berkata, "Sumpah, cara kamu bicara juga mirip!"
Aku tahu, ia tidak akan pernah bisa menggantikanmu, tapi setidaknya ia bisa membuatku sedikit tersenyum.

Forbidden Zone

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh gw dan seorang teman selama Ramadhan ini:
  • Online YM
  • Spamming di twitter
  • Stalking facebook orang yg belum dikenal (Lah, orang belum kenal ngapain kepo?)
  • Sendirian di kamar seharian (Man, lo banyak kerjaan yang mesti dikerjain dan lo enak-enakan gantungin kaki di kasur?!)
  • Nonton film di bioskop
  • Jalan ke Botani Square (Bosen ga sih, lo udah ke mall ini tiap 2 minggu sekali?!)
  • Makan di Oen Pao (Mahasiswa harus merakyat!)
  • Nongkrong di J.Co cuma buat beli J.Cool (Lagi-lagi, masih mahasiswa.)
  • Sahur pake ayam KFC dan nasi putih (Asupan seratnya mana?)
  • Nginep di hotel (Woy, udah punya kamar kost kan?!)
  • Jalan di Bara tepat tengah hari (Tanning bagusnya di Pantai, bukan di jalanan penyumbang asap yang bikin Global Warming No. 1 di Bogor.)
  • Add pin orang yang ga dikenal (Lagi-lagi, karena belum kenal.)
  • Thinking, talking, walking, and entering Bogor Botanical Garden (Bahasa Inggrisnya rumah apa?!)
  • Thinking, talking, walking, and entering Istana Bogor (Belum waktunya kunjungan umum.)
  • Naik Trans Pakuan di kursi paling belakang pojok kanan di siang hari yang terik
  • Menggunakan jasa Commuter Line untuk pulang dan pergi ke Bogor
Kebetulan tulisan ini cuma spam aja dengan tujuan... rahasia! :)