Just A Kiss

One of the Lady A's great song! What a good video clip!


Pramusaji Itu!

Ini masih pukul 18.30 WIB, tapi aku sudah terduduk diam di meja Nomor 19, menanti santapan makan malamku. Sudah ada di tanganku daftar menu restoran ini. Iya, entah kenapa aku jadi sering singgah di restoran ini, di bilangan Taman Kencana.
Aku tidak perlu menelaah daftar menu untuk menentukan pilihan makanan, karena aku sudah tahu apa yang akan aku pesan, seperti biasanya. Tidak ada yang terlalu spesial akan restoran ini. Harganya masih tergolong menengah, bahkan agak mahal untuk kalangan mahasiswa. Rasa makanannya tidak terlalu unik, hampir sama dengan restoran lain. Suasananya, mungkin sedikit berbeda. Konsep taman yang disajikan mungkin akan membuat pengunjung lain lebih tertarik dengan tempat ini. Tapi, tidak bagiku.
Lalu, untuk apa lagi aku datang ke tempat ini? Bahkan, aku bisa datang ke restoran ini tiga kali dalam seminggu. Jarak kampus dengan tempat ini pun jauh, satu jam perjalanan.
Ini mungkin karena kesan kunjungan pertamaku ke tempat ini. Bersama dengan seorang teman, aku mulai dengan memesan kwetiau ayam. Dilanjutkan dengan melihat-lihat bagian dalam restoran, yang isinya mayoritas tumbuhan hijau. Bukan, aku bukan anggota club pecinta alam yang keranjingan dengan tumbuhan hijau. Jadi, itu biasa saja, untukku.
Lalu, apa yang spesial dari restoran ini? Aku belum menemukan sisi yang spesial, sampai saat itu. Aku juga tidak pernah mendatangi restoran ini sewaktu aku bepergian bersamamu. Jadi, aku tidak perlu merasakan kejutan kecil di ingatanku.
Hal yang membuatnya spesial adalah ketika seorang pramusaji datang mengantarkan makanan yang telah aku pesan. Rupanya, Tuhan masih terlalu baik denganku. Kamu tahu? Pramusaji itu mirip denganmu. Paras mukanya, cara jalannya, cara ia tersenyum, dan cara ia menyapa. Tapi, aku tidak bermaksud menggunjing dan menyetarakanmu dengan pramusaji itu. Setidaknya, aku masih bisa melihat sosok dirimu pada pramusaji itu. Sosok yang sudah tidak bisa aku lihat lagi dalam kenyataan.
Di kunjungan berikutnya, aku kembali melihatnya. Tapi sayang, ia terlalu sibuk melayani tamu lain. Tak mengapa, asalkan aku masih bisa melihatnya. Aku juga pernah mendapati ia sedang menuangi gelas-gelas kosong dengan teh tawar dari teko tua. Tidak perlu aku menyapanya, tapi aku sudah bisa tersenyum melihatnya.
Dan kali ini, aku beruntung. Ia melayaniku, menyapaku dengan hangat, bahkan ia mengajakku bicara. Barangkali, kalau aku ada di posisinya, aku juga akan melontarkan pertanyaan yang sama. Tanpa ada isyarat sebelumnya, tiba-tiba saja ia bertanya, "Hey, Mas! Sering banget ke sini ya?! Jadi pelanggan tetap?" dengan sedikit tersenyum. Kamu tahu? Aku hanya bisa tersenyum mendengar hal itu dan berkata, "Sumpah, cara kamu bicara juga mirip!"
Aku tahu, ia tidak akan pernah bisa menggantikanmu, tapi setidaknya ia bisa membuatku sedikit tersenyum.

Forbidden Zone

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh gw dan seorang teman selama Ramadhan ini:
  • Online YM
  • Spamming di twitter
  • Stalking facebook orang yg belum dikenal (Lah, orang belum kenal ngapain kepo?)
  • Sendirian di kamar seharian (Man, lo banyak kerjaan yang mesti dikerjain dan lo enak-enakan gantungin kaki di kasur?!)
  • Nonton film di bioskop
  • Jalan ke Botani Square (Bosen ga sih, lo udah ke mall ini tiap 2 minggu sekali?!)
  • Makan di Oen Pao (Mahasiswa harus merakyat!)
  • Nongkrong di J.Co cuma buat beli J.Cool (Lagi-lagi, masih mahasiswa.)
  • Sahur pake ayam KFC dan nasi putih (Asupan seratnya mana?)
  • Nginep di hotel (Woy, udah punya kamar kost kan?!)
  • Jalan di Bara tepat tengah hari (Tanning bagusnya di Pantai, bukan di jalanan penyumbang asap yang bikin Global Warming No. 1 di Bogor.)
  • Add pin orang yang ga dikenal (Lagi-lagi, karena belum kenal.)
  • Thinking, talking, walking, and entering Bogor Botanical Garden (Bahasa Inggrisnya rumah apa?!)
  • Thinking, talking, walking, and entering Istana Bogor (Belum waktunya kunjungan umum.)
  • Naik Trans Pakuan di kursi paling belakang pojok kanan di siang hari yang terik
  • Menggunakan jasa Commuter Line untuk pulang dan pergi ke Bogor
Kebetulan tulisan ini cuma spam aja dengan tujuan... rahasia! :)

Durable Love Movie

Siapa yang ga kenal Joko Anwar? Ini short film yang lumayan menghibur gw di tengah kegalauan dan kebimbangan akan penelitian. Lumayan, happy ending kok. :)

Tugas Akhir Cepatlah Berakhir

Judul yang sangat frontal, tapi itulah kalimat yang cukup menggambarkan apa yang lagi menghiasi kehidupan gw sekarang ini. Tugas Akhir aka Skripsi kayanya udah jadi momok yang tiap tahun selalu menghantui tiap angkatan akhir di kampus. Dan tibalah saatnya gw yang dihantui sama beginian. Gw sih ga pernah takut ngerjain ginian *sotoy, tapi ada cerita tersendiri di balik tugas akhir gw yang kalo menurut gw sendiri, tugas akhir gw sangat lah labil, tidak stabil seperti orang yang mengerjakannya, hahaha.
Actually, gw udah dapet topik penelitian sejak semester 6 hampir berakhir. Karena semester 7 kan gw harus exchange ke Malaysia, jadi gw pikir ga ada salahnya minta topik duluan ke Pembimbing biar bisa dicari jurnalnya pas gw lagi di Malaysia, harapannya. Dosen pembimbing gw punya 3 orang anak bimbing di angkatan gw, termasuk gw. Waktu pertama kali ketemu buat ngomongin tentang topik skripsi, yang paling jelas adalah gw ga mungkin ngambil magang karena dosen pembimbing gw alergi sama mahasiswa magang. Haha, aneh kedengerannya, tapi emang bener kenyataannya gitu. Gw memaklumi hal ini kok. Gimana ga, masa iya seorang dosen dengan keahlian biokimia pangan dan sangat expert dalam bidang enzim, harus dipusingkan dengan anak bimbingnya yang mau magang tanpa topik yang berkaitan dengan biokimia. Karena emang biasanya mahasiswa Teknologi Pangan yang magang itu jarang ngurusin biokimia di pabrik tertentu.
Dosen pembimbing gw itu pun dengan senang hati memberikan gw dan kedua temen bimbingan gw topik untuk masing-masing orang. Sebenernya topiknya cuma satu, tentang anti enzim lipase. Tapi, masing-masing dari kita punya sampel yang beda. Waktu itu, gw dapet sampel berupa teh hitam. Sedangkan temen gw yg lain dapet teh hijau dan secang. Berhubung gw punya garis mati sebelum gw berangkat buat exchange, maka dari itu gw buru-buru buat bikin usulan penelitian. Ini topik ternyata susah, indeed! Gw sampe muter-muter perpustakaan departemen kimia cuma buat nyari metode atau pun literatur tentang itu. Dan gw pun merasa bukan seperti anak teknologi pangan, melainkan anak jurusan kimia, hehe.
Dosen gw waktu itu mungkin lupa dan agak sibuk, jadi beliau cuma ngasih topik doang, tanpa ada embel-embel metode yang jelas. Akhirnya, gw ngumpulin beberapa metode dari beberapa jurnal dan skripsi. Hasil itu kemudian gw laporin ke dosen pembimbing gw, dan hasilnya?! “Wah, metode-metode ini sama ga yah kaya penelitian kakak kelas kalian yang cuma beda sampel?” ujar dosen pembimbing gw dengan tenangnya. Gw malah agak terbelalak dengan ucapan yang ini, kenapa ga dikasih aja metode yang udah dipake itu? Kan pastinya udah beres usulan penelitian gw *sotoy abis, hahaha. Dan dosen gw pun berkata dengan tenangnya lagi, “eh iya, Ibu lupa, kamu liat aja metode yang kakak kelas kamu pake. Jadi kan nanti hasilnya juga bisa dibandingin”. What the?! -____-“
Sebenernya ini ga masalah banget buat gw, karena masih ada beberapa minggu buat bikin usulan penelitian, malah dengan metode yang udah jelas. Tapi yang gw permasalahkan di sini adalah tiba-tiba dosen pembimbing gw bilang, “nanti kalian mulai aja di semester 7, yah!” Dosen gw ga inget gw mau exchange -____-“. Setelah diingetin, malah keluar kata-kata mujarab, “Ya ampun, ibu lupa. Ya udah, kalo gitu kalian tukeran sampelnya aja. Kamu kan terakhir, jadi kamu pake secang aja. Biar temen-temen kamu yang duluan pada pake teh”. Secara gw orang Indonesia, pada keadaan ini pun gw masih bilang untung, karena belum bikin usulan penelitian sama sekali, hahaha.
Setelah pertemuan yang penuh kejutan itu, gw mulai buat usulan penelitian. Tapi sayangnya, niat dari dalem hati masih kurang, jadi agak males ngerjainnya. Dan gw udah sibuk ngurus surat-surat yang buat exchange. Karena lagi-lagi gw orang Indonesia, gw masih bilang ga apa-apa. Karena udah untung, topik penelitian gw udah jelas. :D
Selama gw di Malaysia, terlalu banyak aral melintang. Terlalu banyak godaan yang menghalangi gw jadi kutu buku perpus, hahaha. Jadinya, gw ga nyari jurnal atau pun buku tentang topik penelitian gw itu sama sekali. Bukan mau sombong, kalo udah masuk perpus, nyalain laptop dan dengerin musik, ngenet sedikit, dan pasti gw ketiduran. Karena perpusnya terlalu nyaman dan dingin untuk dijadiin tempat baca buku, hehe.
Di minggu-mingu terakhir gw di Malaysia, gw iseng-iseng nanya ke salah satu dosen di sana yang emang WNI, apakah bisa gw penelitian di sini dengan dapetin proyek. Eh, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Gw malah ditawarin proyek tentang isolasi senyawa anti mikroba dari daun ulam (sejenis lalapan). Langsung lah gw email dosen pembimbing gw yang di Indonesia. Jawaban emailnya emang rada nyesek sih waktu itu. Bukan tentang jawabannya yang ga bisa, tapi kalimat basa-basinya “syukurlah kamu masih inget sama Ibu”. Hahaha, malu banget nih gw. Dosen pembimbing gw itu ternyata kurang tau tentang masalah kaya gini, jadi beliau mau nanyain dulu ke Bagian Administrasi jurusan gw.
Lebih lucu lagi, waktu gw pamitan pulang ke Bagian Akademik di Malaysia, mereka malah nyuruh gw buat ngerjain tugas akhir di sana. Waktu di kantor Bagian Akademik itu, gw ketemu sama dosen favorit gw di sana. Bahkan dia juga nawarin proyek penelitian ke gw, tapi ini lebih ke arah rekayasa proses. Satu lagi, waktu gw pamitan sama dosen pembimbing gw di sana, beliau malah marah ke gw karena mau ngambil proyek dari dosen yang WNI itu. Dia emang tipikal dosen yang ga mau kalah, jadi dia bilang, “Why don’t you ask me to give you a project?! I can do it, i have so much projects about palm oil. I can give you even the hardest one if you want”. Gw aja ga minat sama sawit, mau dipaksa pun gw pasti ogah ngerjainnya. Tapi, sebagai orang Indonesia yang baik hati dan pandai bertutur kata, akhirnya gw jawab, “So sorry Sir, i don’t even know whether you have a project. Maybe, next time i can help you” sambil masang muka polos-lugu-tanpa dosa-tanpa masalah.
Jujur, gw sih prefer ngerjain penelitian yang tentang ulam itu. But unfortunately, sesampainya gw di Indonesia, sepertinya emang ga mungkin gw ngerjain penelitian di kampus lain, kecuali gw ikut program exchange yang emang buat ngerjain tugas akhir. Pupus lah harapan gw buat balik lagi ke Malaysia dengan gratis, hehe. Tapi, cerita topik penelitian gw belum berakhir sampe sini.
Gw emang harus penelitian di Indonesia, tapi ternyata, gw bukan ngerjain topik yang pertama kali tentang secang itu. Dosen pembimbing gw lagi punya proyek hibah bersaing tentang cincau hijau yang pake proses pemanasan. Dan akhirnya, gw ambil proyek ini. Yang penting, penelitain gw gratis, hehehe.
Apa kabarnya si cincau hijau sekarang? Sedang tidak baik, seperti keadaan gw. Mungkin bener kata tukang cincau yang pernah gw temuin. Kalo bikin cincau hijau itu harus lagi sehat dan good mood, otherwise ga bakalan jadi tuh cincau. Doakan saja, semoga gw bisa nyelesein ini dengan baik dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Amin!!!

Tentang Blog

Well, selamat yaa blog! Akhirnya gw bikin sebuah postingan tentang blog ini. Bukan tentang sesuatu, tapi bener-bener tentang blog ini, pure!
Terinspirasi dari beberapa kejadian akhir-akhir ini yang bikin gw sendiri cekikikan dengernya.
Gw bikin blog ini kayanya dulu tanpa tujuan dan arah yang jelas, hahaha. Dan karena gw bukan orang yang spontan dalam menulis (Jujur, gw mesti punya niat lurus suci putih bersih kalo mau menghasilkan tulisan berbobot), jadi lah gw posting apa yg pernah gw tulis untuk kegiatan kampus gw. Termasuk artikel-artikel yang pernah gw tulis untuk koran kampus IPB.
Dan yang paling laris dari blog ini adalah laporan dan tugas kuliah! Hahaha, ga ada niat sama sekali untuk bikin master laporan dan tugas di blog ini. Cuma ada 2 mata kuliah yang kebetulan gw selalu mengeiknya dan agak kurang kerjaan dan kurang bahan sehingga gw ngepost laporan dan tugas itu.
Berkat ini, gw jadi semacam terkenal  karena selalu menyediakan master yang bermutu untuk mengerjakan laporan adik tingkat 2 tahun di bawah gw dan tugas sejenis PR untuk adik tingkat 1 tahun di bawah gw. Dan gw ga bermaksud memanjakan mereka loh yaa, kan gw ngepost karena ga ada bahan untuk di-post, hehehe.
Kepopuleran gw ini terbukti dengan disebut-sebut dan dipanggil-panggilnya gw sama adik kelas yang sama sekali gw ga kenal itu siapa. Haha, maaf kalimat ini terlalu terkesan memfitnah diri sendiri. Contohnya aja kemarin, tiba-tiba ada anak angkatan 2010 yang berterima kasih sama gw karena katanya dia pake laporan gw sebagai masternya buat ngerjain laporan. Pertama denger sih bingung, laporan gw kan cuma ada 1 dan itu pasti dilungsurin ke adik kelas smansa Depok, ga mungkin kemana-mana. Ternyata, dia bilang ngeliat laporan gw dari blog.
Maaf loh, kalo emang ada yang beranggapan ini jadi masalah. Gw kan cuma berusaha membuat suatu ruang yang bisa gw corat-coret. :)

Taken From Bangkok

No, it's not about all of the photos taken from my journey in Bangkok.
It's only about 1 picture that was so "eye-catching". Take a look at this!


Masih inget kan tentang banjir besar yg melanda Thailand? Gw pergi ke sana pasca banjir ini reda. Dan di salah satu Monorail Transportation Station, gw mendapati gambar ini. Pada intinya, arti dari bacaannya adalah kami (pihak Monorail-nya) tetap melayani anda apapun yg terjadi. Isn't it so sweet? :)
Semoga ini bisa diaplikasikan di Indonesia ya. Jadi, bukan lagi "kereta terhambat karena gardu meledak", melainkan "kereta tetap melayani anda walaupun gardu kami meledak". LOL!
I'm not freaking serious with that sentence. Maksudnya, semoga sistem pelayanan publik di Indonesia jadi lebih baik gitu. Amin at all!

Kemungkinan yang Paling Mungkin

Aku berpikir sejenak. Ya, hanya sejenak. Berpikir tentang apa yang seharusnya sudah terjadi. Berpikir tentang kejadian masa depan yang mungkin terjadi pada masa lalu.

Apa yang akan terjadi kalau aku tidak pergi meninggalkanmu? Hanya Tuhan yang mampu menyimpan cerita yang tidak tertulis itu dengan baik dan sangat rahasia. Aku hanya mampu berusaha menerka-nerka garis hidup yang mungkin akan tergores kala itu.

Dalam lamunanku ini, ada beberapa pilihan takdir yang mungkin bisa aku pilih hanya dalam pikiranku. Ya, hanya pikiran yang sejenak terbersit.

Satu, aku tidak pergi meninggalkanmu berarti aku tidak akan pernah merasa terburu-buru untuk melalui hari-hari bersamamu. Kita tetap berinteraksi melalui dunia itu. Mungkin hingga sekarang. Karena mungkin aku tidak akan pernah memintamu untuk menemuiku. Dengan begitu, kau mungkin tidak meninggalkanku. Mungkin ini akan terasa sangat indah. Karena kita akan berinteraksi dalam waktu yang lama.

Dua, aku tetap akan menemuimu. Tapi tidak pada masa itu. Karena aku tau masa itu terlalu dini untuk dijadikan kenyataan. Dan aku tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi setelah aku menemuimu. Mungkin saja akan terjadi hal seperti apa yang telah kita lalui sekarang ini. Tapi, setidaknya,  aku tidak merasa terlalu cepat untuk kehilanganmu.

Tiga, kemungkinan paling aneh yang pernah terpikir olehku. Untung ini hanya sejenak. Ya, hanya sejenak. Aku tidak akan pernah merasa perlu untuk melalui hariku bersamamu. Berawal dari kehidupan luar biasa yang sangat biasa. Lalu, aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk bertemu denganmu dan memulai interaksi kita. Ini berarti aku tidak akan pernah kenal denganmu, tidak akan pernah berinteraksi denganmu, tidak akan pernah menemuimu, dan tidak akan pernah berpisah denganmu. Karena perpisahan tidak akan pernah terjadi tanpa sebuah awal berupa pertemuan.

Empat, mungkin aku tetap ditakdirkan untuk berkenalan denganmu. Hampir sama dengan kemungkinan pertama. Hanya saja, motivasiku di sini kurang kuat untuk berinteraksi lebih sering denganmu. Dan pada akhirnya aku mungkin tidak akan pernah menemuimu.

Lima, tidak ada kemungkinan lain yang terpikir olehku. Mungkin memang hanya ada empat kemungkinan yang dulu akan terjadi ketika aku tidak harus pergi meninggalkanmu. Atau mungkin masih ada kemungkinan lain yang mungkin belum sempat terbersit dalam lamunanku ini.

Tak mengapa, ini kan hanya terjadi pada pikiran dan lamunanku saja. Pada kenyataannya, aku sudah meninggalkanmu. Aku juga sudah pernah menemuimu. Aku juga sudah berinteraksi denganmu hanya dalam waktu yang sangat singkat. Dan yang pasti, kamu sudah pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan sedikit pun.