GRAVIMETRI : PENETAPAN KADAR AIR DAN KADAR ABU JARINGAN TANAMAN


Prinsip Percobaan
Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot substansi murni yang hanya mengandung analit.(Skoog 2004) Penentuan kadar zat berdasarkan pengukuran berat analit atau senyawa yang mengandung analit dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode pengendapan melalui isolasi endapan sukar larut dari suatu komposisi yang tak diketahui dan metode penguapan dimana larutan yang mengandung analit diuapkan, ditimbang, dan kehilangan berat dihitung. (Harvey 2000) Berdasarkan cara mengukur fase, gravimetri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gravimetri evolusi langsung dan gravimetri evolusi tidak langsung. Gravimetri evolusi langsung berfungsi untuk mengukur fase gas secara langsung, sedangkan gravimetri evolusi tidak langsung berfungsi untuk mengukur fase gas dan fase padat dari padatan yang terbentuk.(Skoog 2004)
Kadar air suatu bahan menunjukkan kandungan air bebas dalam bahan tersebut yang berikatan hidrogen dengan sesama molekul air bebas. Kadar abu suatu bahan adalah residu senyawa oksida dan garam yang tersisa dari pengeringsn suatu bahan pada temperatur yang tinggi.(Fennema 1996)
Pada percobaan ini, gravimetri digunakan untuk melakukan penetapan kadar air dan kadar abu bubuk temu giring (Curcuma heyneana). Temu giring adalah semak semusim yang hidup secara liar di pekarangan dan ladang pada tanah lembab dan sedikit cahaya. Zat kimia yang terkandung dalam temu giring antara lain minyak atsiri dan zat pati.(Davy 1996) Pada percobaan ini, sampel yang digunakan berupa bubuk temu giring, bukan bahan segar temu giring. Penetapan kadar air bubuk temu giring dilakukan berdasarkan metode penguapan, sedangkan penetapan kadar abu bubuk temu giring dilakukan berdasarkan metode pengendapan.
Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan menetapkan kadar air dan kadar abu suatu bahan.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang dipakai adalah botol timbang, neraca analitik, eksikator, oven (thermostat), cawan porselin, pembakar gas, dan tanur listrik. Bahan-bahan yang digunakan adalah bubuk temu giring (Curcuma heyneana).
Prosedur Percobaan
· Penetapan Kadar Air
Botol timbang dikeringkan pada temperatur 105°C selama 30 menit. Setelah didinginkan dalam eksikator selama 15 menit, kemudian ditimbang. Kira-kira 3 gram bubuk temu giring dimasukkan dalam botol timbang, kemudian dikeringkan pada temperatur 105°C hingga bebas air selama ± 60 menit. Setelah didinginkan dalam eksikator selama 15 menit, botol timbang dan isinya ditimbang. Pekerjaan dilakukan rangkap 3 (triplo).
· Penetapan Kadar Abu
Cawan porselin dikeringkan pada temperatur 600°C selama 30 menit, dinginkan dalam eksikator kemudian ditimbang. Kira-kira 2 gram bubuk temu giring dimasukkan ke dalam cawan porselin. Cawan dan isinya dipanaskan dengan nyala bunsen sampai tidak berasap lagi. Kemudian dimasukkan ke dalam tanur listrik dengan temperatur 600°C selama 30 menit. Setelah didinginkan dalam eksikator, cawan dan isinya ditimbang. Pekerjaan dilakukan rangkap 3 (triplo).


Data Hasil Pengamatan
Penetapan Kadar Air
Ulangan
Massa Cawan + Tutup
gram
Massa Bubuk Temu Giring gram
Massa Sebelum Pengeringan
(a) gram
Massa Sesudah Pengeringan
(b) gram
Kadar Air
%
1
33,4098
3,0426
36,4524
36,1949
25,7500
2
26,4596
3,0973
29,5569
29,2685
28,8400
3
30,5431
3,0273
33,5704
33,2796
29,0800
Rata-rata
27,8900
St. Deviasi
1,8572
· Contoh Perhitungan Kadar Air (Ambil data ulangan ke-2) :
Kadar Air =
=
= 28,8400 %
· Perhitungan Rata-rata Kadar Air :
Rata-rata =
=
= 27,8900 %
· Perhitungan Standar Deviasi Kadar Air :
Sd =
=
= = = 1,8572
· Ketelitian =
=
Penetapan Kadar Abu
Ulangan
Massa Cawan + Tutup
gram
Massa Bubuk Temu Giring
(b) gram
Massa Sebelum Pengeringan
gram
Massa Sesudah Pengeringan
gram
Massa Abu
(a) gram
Kadar Abu
%
1
30,0079
2,0052
32,0131
30,4386
1,5745
78,5208
2
34,4716
2,0001
36,4717
34,8827
1,589
79,4460
3
30,5843
2,0002
32,5845
31,0121
1,5724
78,6121
Rata-rata
78,8597
St. Deviasi
0,5098
· Contoh Perhitungan Kadar Abu (Ambil data ulangan ke-3) :
Kadar Abu =
=
= 78,5208 %
· Perhitungan Rata-rata Kadar Abu :
Rata-rata =
=
= 78,8597 %
· Perhitungan Standar Deviasi Kadar Abu :
Sd =
=
= = = 0,5098
· Ketelitian =
=
Pembahasan
Percobaan ini menentukan kadar air dan kadar abu bubuk temu giring (Curcuma heyneana) dengan menggunakan metode gravimetri evolusi tidak langsung. Cara yang dilakukan untuk pengeringan adalah dengan menggunakan oven dan tanur listrik karena bubuk temu giring merupakan contoh bahan yang kandungan airnya dapat diuapkan dengan oven dan tanur listrik pada kondisi temperatur tinggi. Desikator digunakan untuk memperkecil resiko hilangnya air saat pendinginan.(Skoog 2004) Kadar air ditentukan dengan membandingkan selisih bobot bubuk temu giring sebelum pengeringan pada suhu 105°C selama 60 menit dan bobot bubuk temu giring setelah pengeringan dengan bobot bubuk temu giring sebelum pengeringan. Kadar abu ditentukan dengan membandingkan bobot abu yang didapat dengan bobot bubuk temu giring sebelum pengeringan pada suhu 600°C selama 30 menit. Proses perpindahan cawan selalu menggunakan gegep agar lemak dari tangan yang mungkin menempel pada cawan tidak ikut tertimbang.
Pada percobaan penentuan kadar air, didapatkan hasil kadar air bubuk temu giring sebesar (27,8900 ± 1,8572) % dengan ketelitian 93,3409 %. Hal ini berarti bubuk temu giring tidak dapat disimpan lama pada suhu kamar dengan kemasan terbuka. Karena bahan yang dapat disimpan lama pada suhu kamar dengan kemasan terbuka harus memiliki kadar air kurang dari 10 %.(Acker 1969)
Pada percobaan penentuan kadar abu, didapatkan hasil kadar abu bubuk temu giring sebesar (78,8597 ± 0,5098) % dengan ketelitian 99,3535 %. Hal ini berarti sebagian besar kandungan bubuk temu giring tersusun atas molekul mineral. Karena penentuan kadar abu biasa digunakan untuk menentukan kadar mineral yang terdapat dalm suatu bahan, walaupun jenis mineral yang terkandung tidak dapat diidentifikasi menggunakan metode ini.(Fennema 1996)
Ketelitian yang didapat dari percobaan sangat tinggi. Hal ini berarti kesalahan yang mungkin terjadi sudah bisa dihindari. Kesalahan ini meliputi kurang hati-hati dalam pemindahan cawan, kesalahan kalibrasi neraca analitik, dan kesalahan penyimpanan dalam desikator. Namun demikian, ketepatan pada percobaan ini tidak dapat dicari karena tidak ada sumber yang mencantumkan kadar air dan kadar abu bubuk temu giring. Kesalahan ini dapat teratasi dengan koordinasi yang baik antara asisten dengan praktikan sehingga praktikan dapat membawa bahan segar yang akan diuji. Dengan demikian, pencarian literatur tentang bahan tersebut akan lebih mudah.
Simpulan
Percobaan ini telah berhasil menentukan kadar air dan kadar abu bubuk temu giring (Curcuma heyneana). Kadar air bubuk temu giring sebesar (27,8900 ± 1,8572) % dengan ketelitian 93,3409 % dan kadar abu bubuk temu giring sebesar (78,8597 ± 0,5098) % dengan ketelitian 99,3535 %.
Pustaka Rujukan
Acker L.W. 1969. Water Activity and Enzyme Activity. Food Technology. 23(10):1257-1270.
Davy H. 1996. Elements of Agricultural Chemistry 5th Edition. London: Green and Longman.
Fennema Owen. 1996. Food Chemistry Third Edition. New York: Marcel Dekker Inc.
Harvey David. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw-Hill Comp.
Skoog Douglas et al. 2004. Fundamental of Analytical Chemistry. Singapura: Thomson Learning.

Laporan Kimnal Perkenalan Alat

Prinsip Percobaan
Dalam pelaksanaan praktikum kimia analitik, berbagai macam peralatan digunakan, baik berupa alat sederhana seperti alat gelas maupun alat-alat yang menuntut keterampilan penggunanya seperti spektrometer. Alat-alat sederhana biasanya terbuat dari gelas, logam, karet, plastik, dan lain-lain. Masing-masing alat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ada yang berfungsi untuk mengukur volume, sebagai wadah larutan, dan fungsi khusus lainnya.
Selain berbagai macam peralatan, Praktikum kimia analitik juga memerlukan berbagai jenis bahan kimia. Wujud dari bahan kimia ini juga berbeda-beda, baik berbentuk padatan maupun berbentuk cairan.Dengan wujud yang berbeda, masing-masing bahan kimia memiliki sifat yang berbeda pula. Karena itu, ketepatan penanganan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Standardisasi titran adalah hal yang penting dalam melakukan titrimetri, yaitu analisis penentuan konsentrasi dengan mengukur volume larutan yang akan ditentukan konsentrasinya dengan volume larutan yang telah diketahui konsentrasinya dengan teliti atau analisis yang berdasarkan pada reaksi kimia. (Khopkar, 2002) Standardisasi titran menggunakan larutan baku, yang selanjutnya digunakan dalam titrimetri. Standardisasi dan titrimetri juga menggunakan indikator yang sesuai dengan kisaran pH larutan yang digunakan.


Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk pengenalan alat dan teknik pengoperasiannya dalam proses analisis. Percobaan ini juga bertujuan untuk menentukan konsentrasi dari titran dan larutan yang dicari konsentrasinya.

Prosedur Percobaan
A. Standardisasi Titran
Kristal asam oksalat dan boraks ditimbang menggunakan neraca analitik dengan bobot masing-masing 0,3150 gram dan 0,9535 gram. Kemudian, kristal tersebut dilarutkan ke dalam labu takar 50 ml secara tepat dengan pelarut air. Percobaan dilakukan secara duplo. Larutan tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam 6 buah erlenmeyer 125 ml sebanyak 10 ml, ditambahkan indikator Fenolftalein, dititrasi dengan titran NaOH untuk asam oksalat dan titran HCl untuk boraks. Proses titrasi dilakukan sampai terjadi perubahan warna. Volume titran yang terpakai dan perubahan warna larutan dicatat.
B. Penentuan Konsentrasi HCl dan NaOH
Padatan NaOH ditimbang menggunakan neraca analitik dengan bobot 0,2044 gram. Kemudian, kristal NaOH dan larutan HCl yang tersedia dilarutkan ke dalam labu takar 50 ml secara tepat dengan pelarut air. Percobaan dilakukan secara duplo. Larutan tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam 9 buah erlenmeyer 125 ml sebanyak 10 ml. Indikator Bromtiomol Biru, Jingga Metil, dan Merah Metil ditambahkan ke dalam erlenmeyer. Setiap indikator dimasukkan ke dalam 3 buah erlenmeyer. Larutan kemudian dititrasi dengan titran sampai terjadi perubahan warna. Volume titran yang terpakai dan perubahan warna larutan dicatat. Konsentrasi HCl dan NaOH kemudian dihitung.







Data Hasil Pengamatan dan Gambar

Standardisasi HCl
Indikator : Fenolftalein
Tabel Hasil Standardisasi HCl
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume terpakai N HCl
1 15,5 25,8 10,3 0,0971
2 25,8 36,3 10,5 0,0952
3 36,3 46,7 10,4 0,0962
4 46,7 57,1 10,4 0,0962
5 28,0 38,3 10,3 0,0971
6 38,3 48,5 10,2 0,0980
N ̅ HCl 0,0966
Sd N HCl 0,0009
Perubahan Warna : Tidak Berwarna →Orange
Reaksi : 2HCl + Na2B4O7 + 5H20 → 2NaCl + 4H3B03
Contoh Perhitungan N HCl (Ambil data ulangan ke-4)
N HCl x V HCl = N Boraks x V Boraks
N HCl x 10,2 ml = 0,1 N x 10 ml
N HCl = (0,1 N × 10 ml)/(10,2 ml) = 0,0962 N
Perhitungan N ̅ HCl
N ̅ HCl = (N HCl1 + N HCl 2 + N HCl 3 + N HCl 4 + N HCl 5 + N HCl 6)/6
= (0,0971 +0,0952 + 0,0962 + 0,0962 + 0,0971 + 0,0980)/6
= 0,0966 N
Perhitungan Sd N HCl
Sd N HCl = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,0971-0,0966)^2+(0,0952-0,0966)^2+(0,0962-0,0966)^2+(0,0962-0,0966)^2+(0,0971-0,0966)^2+(0,0980-0,0966)^2)/(6-1))
= √((4,74 ×〖10〗^(-6))/5) = √(9,48 ×〖10〗^(-7) ) = 0,0009

Ketelitian = (1-((Sd N HCl)/(N ̅HCl)) )×100 %
= (1-(0,0009/0,0966) )×100%
= 99,0683 %

Standardisasi NaOH
Indikator : Fenolftalein
Tabel Hasil Standardisasi NaOH
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume terpakai N NaOH
1 0 5,1 5,1 0,1961
2 5,1 10,1 5,0 0,2000
3 10,1 15,1 5,0 0,2000
4 15,1 20,2 5,1 0,1961
5 20,2 25,2 5,0 0,2000
6 25,2 30,4 5,2 0,1923
N ̅ NaOH 0,1974
Sd. N NaOH 0,0031
Perubahan Warna : Tidak Berwarna → Ungu kemerahan
Reaksi : 2NaOH + (COOH)2.2H2O → 2COONa + 4H2O
Contoh Perhitungan N NaOH (Ambil data ulangan ke-6)
N NaOH x V NaOH = N As. Oksalat x V As. Oksalat
N NaOH x 5,2 ml = 0,1 N x 10 ml
N HCl = (0,1 N × 10 ml)/(5,2 ml) = 0,1923 N
Perhitungan N ̅ NaOH
N ̅ NaOH = (NNaOH 1 + N NaOH 2 + N NaOH 3 + N NaOH 4 + N NaOH 5 + N NaOH 6)/6
= (0,1961 +0,2000 + 0,2000 + 0,1961 + 0,2000 + 0,1923)/6
= 0,1974 N






Perhitungan Sd N NaOH
Sd N NaOH = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,1961-0,1974)^2+(0,2000-0,1974)^2+(0,2000-0,1974)^2+(0,1961-0,1974)^2+(0,2000-0,1974)^2+(0,1923-0,1974)^2)/(6-1))
= √((4,967 ×〖10〗^(-5))/5) = √(9,934 ×〖10〗^(-6) ) = 0,0031
Ketelitian = (1-((Sd N NaOH)/(N ̅NaOH)) )×100 %
= (1-(0,0031/0,1974) )×100%
= 98,4296 %

Gambar Hasil Titrasi Standardisasi NaOH

Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3

Ulangan 4 Ulangan 5 Ulangan 6







Titrasi HCl dengan Titran NaOH
Reaksi :HCl + NaOH → NaCl + H2O
Indikator : Merah Metil
Tabel Hasil Penentuan Konsentrasi HCl (1)
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume terpakai N HCl
1 0 10,5 10,5 0,2072
2 10,5 21,1 10,6 0,2092
3 21,1 31,3 10,2 0,2013
N ̅ HCl 0,2059
Sd N HCl 0,0041
Perubahan Warna : Merah → Kuning
Contoh Perhitungan N HCl (Ambil data ulangan ke-2)
N HCl x V HCl = N NaOH x V NaOH
N HCl x 10 ml = 0,1974 N x 10,6 ml
N NaOH = (0,1974 N ×10,6 ml)/(10 ml) = 0,2092 N
Perhitungan N ̅ HCl
N ̅ HCl = (NHCl 1 + N HCl 2 + N HCl 3)/3
= (0,2072 +0,2092 + 0,2013)/3
= 0,2059 N
Perhitungan Sd N HCl
Sd N HCl = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,2072-0,2059)^2+(0,2092-0,2059)^2+(0,2013-0,2059)^2)/(3-1))
= √((3,374 ×〖10〗^(-5))/2) = √(1,687 ×〖10〗^(-5) ) = 0,0041
Ketelitian = (1-((Sd N HCl)/(N ̅HCl)) )×100 %
= (1-(0,0041/0,2059) )×100%
= 98,0087 %



Indikator : Bromtimol Biru
Tabel Hasil Penentuan Konsentrasi HCl (2)
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume terpakai N HCl
1 6,3 17,4 11,1 0,2191
2 17,4 28,2 11,3 0,2231
3 28,2 39,0 10,8 0,2132
N ̅ HCl 0,2185
Sd N HCl 0,0049
Perubahan Warna : Kuning → Biru
Contoh Perhitungan N HCl (Ambil data ulangan ke-1)
N HCl x V HCl = N NaOH x V NaOH
N HCl x 10 ml = 0,1974 N x 11,1 ml
N NaOH = (0,1974 N ×11,1 ml)/(10 ml) = 0,2191 N
Perhitungan N ̅ HCl
N ̅ HCl = (NHCl 1 + N HCl 2 + N HCl 3)/3
= (0,2191 +0,2231 + 0,2132)/3
= 0,2185 N
Perhitungan Sd N HCl
Sd N HCl = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,2191-0,2185)^2+(0,2231-0,2185)^2+(0,2132-0,2185)^2)/(3-1))
= √((4,961 ×〖10〗^(-5))/2) = √(2,4805 ×〖10〗^(-5) ) = 0,0049
Ketelitian = (1-((Sd N HCl)/(N ̅HCl)) )×100 %
= (1-(0,0049/0,2185) )×100%
= 97,7574 %





Indikator : Jingga Metil
Tabel Hasil Penentuan Konsentrasi HCl (3)
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume terpakai N HCl
1 4,4 14,4 10,0 0,1974
2 28,7 39,4 10,7 0,2112
3 39,4 50,0 10,6 0,2092
N ̅ HCl 0,2059
Sd N HCl 0,0075
Perubahan Warna : Merah muda → Jingga
Contoh Perhitungan N HCl (Ambil data ulangan ke-3)
N HCl x V HCl = N NaOH x V NaOH
N HCl x 10 ml = 0,1974 N x 10,6 ml
N NaOH = (0,1974 N ×10,6 ml)/(10 ml) = 0,2092 N
Perhitungan N ̅ HCl
N ̅ HCl = (NHCl 1 + N HCl 2 + N HCl 3)/3
= (0,1974 +0,2112 + 0,2092)/3
= 0,2059 N
Perhitungan Sd N HCl
Sd N HCl = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,1974-0,2059)^2+(0,2112-0,2059)^2+(0,2092-0,2059)^2)/(3-1))
= √((1,1123 ×〖10〗^(-4))/2) = √(5,5615 ×〖10〗^(-4) ) = 0,0075
Ketelitian = (1-((Sd N HCl)/(N ̅HCl)) )×100 %
= (1-(0,0075/0,2059) )×100%
= 96,3575 %





Titrasi NaOH dengan Titran HCl
Reaksi : NaOH + HCl → NaCl + H2O
Indikator : Merah Metil
Tabel Hasil Penentuan Konsentrasi NaOH (1)
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume HCl terpakai N NaOH
1 0 10,2 10,2 0,0985
2 10,2 20,5 9,85 0,0952
3 20,5 28,9 8,85 0,0855
N ̅ NaOH 0,0931
Sd N NaOH 0,0068
Perubahan Warna : Kuning → Ungu
Contoh Perhitungan N NaOH (Ambil data ulangan ke-2)
N NaOH x V NaOH = N HCl x V HCl
N NaOH x 10 ml = 0,0966 N x 9,85 ml
N NaOH = (0,0966 N ×9,85 ml)/(10 ml) = 0,0952 N
Perhitungan N ̅ NaOH
N ̅ NaOH = (NNaOH 1 + N NaOH 2 + N NaOH 3)/3
= (0,0985 +0,0952 + 0,0855)/3
= 0,0931 N
Perhitungan Sd N NaOH
Sd N NaOH = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,0985-0,0931)^2+(0,0952-0,0931)^2+(0,0855-0,0931)^2)/(3-1))
= √((9,133 ×〖10〗^(-5))/2) = √(4,566 ×〖10〗^(-5) ) = 0,0068
Ketelitian = (1-((Sd N NaOH)/(N ̅NaOH)) )×100 %
= (1-(0,0068/0,0931) )×100%
= 92,6960 %



Indikator : Bromtimol Biru
Tabel Hasil Penentuan Konsentrasi NaOH (2)
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume HCl terpakai N NaOH
1 9,6 19,4 9,8 0,0947
2 19,4 29,4 10,0 0,0966
3 29,4 39,5 10,1 0,0976
N ̅ NaOH 0,0963
Sd N NaOH 0,0015
Perubahan Warna : Biru → Kuning
Contoh Perhitungan N NaOH (Ambil data ulangan ke-3)
N NaOH x V NaOH = N HCl x V HCl
N NaOH x 10 ml = 0,0966 N x 10,1 ml
N NaOH = (0,0966 N ×10,1 ml)/(10 ml) = 0,0976 N
Perhitungan N ̅ NaOH
N ̅ NaOH = (NNaOH 1 + N NaOH 2 + N NaOH 3)/3
= (0,0947 +0,0966 + 0,0976)/3
= 0,0963 N
Perhitungan Sd N NaOH
Sd N NaOH = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,0947-0,0963)^2+(0,0966-0,0963)^2+(0,0976-0,0963)^2)/(3-1))
= √((3,65 ×〖10〗^(-6))/2) = √(1,825 ×〖10〗^(-6) ) = 0,0015
Ketelitian = (1-((Sd N NaOH)/(N ̅NaOH)) )×100 %
= (1-(0,0015/0,0963) )×100%
= 98,4424 %





Indikator : Fenolftalein
Tabel Hasil Penentuan Konsentrasi NaOH (3)
Ulangan Meniskus 1 Meniskus 2 Volume terpakai N NaOH
1 28,9 38,6 9,7 0,0937
2 38,6 48,0 9,4 0,0908
3 0 9,6 9,6 0,0927
N ̅ NaOH 0,0924
Sd N NaOH 0,0015
Perubahan Warna : Ungu → Tidak Berwarna
Contoh Perhitungan N NaOH (Ambil data ulangan ke-1)
N NaOH x V NaOH = N HCl x V HCl
N NaOH x 10 ml = 0,0966 N x 9,7 ml
N NaOH = (0,0966 N ×9,7ml)/(10 ml) = 0,0937 N
Perhitungan N ̅ NaOH
N ̅ NaOH = (NNaOH 1 + N NaOH 2 + N NaOH 3)/3
= (0,0937 +0,0908 + 0,0927)/3
= 0,0924 N
Perhitungan Sd N NaOH
Sd N NaOH = √((∑▒(Ni-N ̅ )^2 )/(n-1))
=√(((0,0937-0,0924)^2+(0,0908-0,0924)^2+(0,0927-0,0924)^2)/(3-1))
= √((4,36 ×〖10〗^(-6))/2) = √(2,17 ×〖10〗^(-6) ) = 0,0015
Ketelitian = (1-((Sd N NaOH)/(N ̅NaOH)) )×100 %
= (1-(0,0015/0,0924) )×100%
= 98,3766 %





Pembahasan
Setiap praktikum kimia analitik membutuhkan berbagai jenis peralatan, baik berupa peralatan sederhana maupun peralatan yang rumit. Selain itu, bahan kimia juga dibutuhkan. Inventarisasi peralatan sangat diperlukan untuk memeriksa kelengkapan alat-alat yang digunakan. Kegiatan ini juga menentukan keberhasilan dalam setiap praktikum kimia analitik. Inventarisasi peralatan dilakukan pada awal dan akhir setiap praktikum kimia analitik.
Dalam percobaan ini dilakukan standadisasi titran dan penentuan konsentrasi larutan dengan metode titrimetri. Titrimetri adalah analisis penentuan konsentrasi dengan mengukur volume larutan yang akan ditentukan konsentrasinya dengan volume larutan yang telah diketahui konsentrasinya dengan teliti atau analisis yang berdasarkan pada reaksi kimia. (Prabowo, 1995) Sebelum melakukan penentuan konsentrasi larutan dengan metode titrasi, titran distandardisasi terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar konsentrasi titran diketahui dengan pasti, yang nantinya akan mempermudah perhitungan penentuan konsentrasi larutan tersebut. Hal ini juga mengacu pada kebiasaan bahwa titran yang dipakai sudah tidak murni, sehingga konsentrasinya tidak tepat. Standardisasi titran menggunakan metode titrasi dengan larutan baku primer. Larutan baku primer dibuat dengan kemurnian tinggi, stabil, mudah larut dalam air, dan memiliki massa ekivalen yang tinggi. (Harjadi, 1986) Larutan baku primer yang digunakan untuk standardisasi HCl adalah boraks (Na2B4O7.10H2O) dan untuk standardisasi NaOH adalah asam oksalat (C2H2O4.2H2O). Dari hasil percobaan tersebut diperoleh konsentrasi titran HCl sebesar (0,0966 ± 0,0009) N dengan ketelitian 99,0683 %, sedangkan konsentrasi NaOH sebesar (0,1974 ± 0,0031) N dengan ketelitian 98,4296 %.
Selanjutnya, berdasarkan prinsip titrasi asam-basa, maka untuk mengetahui konsentrasi HCl digunakan titran NaOH dan untuk mengetahui konsentrasi NaOH digunakan titran HCl. Pada titrasi HCl dengan titran NaOH, digunakan indikator Merah Metil, Bromtimol Biru, dan Jingga Metil. Hasil yang didapat untuk konsentrasi HCl dengan indikator Merah Metil adalah (0,2059 ± 0,0041) N dengan ketelitian 98,0087 %, konsentrasi HCl dengan indikator Bromtimol Biru adalah (0,2185 ± 0,0049) N dengan ketelitian 97,7574 %, dan konsentrasi HCl dengan indikator Jingga Metil adalah (0,2059 ± 0,0075) N dengan ketelitian 96,3575 %. Sedangkan pada titrasi NaOH dengan titran HCl digunakan indikator Merah Metil, Bromtimol Biru, dan Fenolftalein. Hasil yang didapat untuk konsentrasi NaOH dengan indikator Merah Metil adalah (0,0931 ± 0,0068) N dengan ketelitian 92,6960 %, konsentrasi NaOH dengan indikator Bromtimol Biru adalah (0,0963 ± 0,0015) N dengan ketelitian 98,4424 %, dan konsentrasi NaOH dengan indikator fenolftalein adalah (0,0924 ± 0,0015) N dengan ketelitian 98,3766 %.
Indikator yang digunakan berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan kisaran pH awal titrasi dan kisaran pH akhir titrasi. Indikator yang dipilih adalah indikator yang memiliki trayek pH berkisar antara pH awal titrasi dan pH akhir titrasi. Selain itu, indikator juga harus menghasilkan efek warna yang berbeda pada pH awal dan pH akhir titrasi. Hal ini juga bertujuan agar hasil yang diperoleh lebih akurat. (Rival, 1995) Jenis indikator yang digunakan juga menyebabkan perbedaan konsentrasi hasil titrasi. Perbedaan yang terlalu jauh seperti pada standardisasi NaOH disebabkan oleh beberapa kesalahan yang mungkin terjadi, antara lain kesalahan paralaks, kesalahan teknis pembuatan larutan, keterampilan yang kurang dari praktikan dalam menggunakan alat titrasi, dan kelalaian dalam melakukan kalibrasi ulang neraca analitik. Meskipun demikian, keseluruhan percobaan telah dilakukan dengan ketelitian yang baik.

Simpulan
Praktikum kimia analitik memerlukan berbagai macam alat yang memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda-beda, sehingga cara pengoperasiannya pun berbeda. Standardisasi titran sangat diperlukan pada metode titrimetri untuk menentukan konsentrasi titran. Perbedaan konsentrasi hasil titrasi disebabkan oleh jenis indikator yang digunakan.

Pustaka Rujukan
Harjadi W. 1986. Kimia Analitik Dasar. Jakarta : PT. Gramedia.
Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.
Prabowo. 1995. Kimia I. Jakarta : Erlangga.
Rival Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta : UI Press.